Pembiayaan Kesehatan

Menurut A. A. Gde Muninjaya dalam Manajemen Kesehatan (2004), ada empat sumber utama pembiayaan kesehatan :

  1. Pemerintah
  2. Swasta
  3. Masyarakat dalam bentuk pembayaran langsung (fee for servis) dan asuransi
  4. Sumber-sumber lain dalam bentuk hibah atau pinjaman dari luar negeri.

Pembiayaan yang bersumber dari asuransi kesehatan merupakan salah satu cara yang terbaik untuk mengatasi mahalnya biaya pelayanan kesehatan. Alasannya antara lain:

  1. Pemerintah dapat mendiversifikasikan sumber-sumber pendappatkan dari sektor kesehatan.
  2. Meningkatkan efisiensi dengan cara memberikan peran kepada masyarakat dalam pembiayaan pelayanan kesehatan.
  3. Memeratakan beban biaya kesehatan menurut waktu dan populasi yang lebih luas sehingga dapat mengurangi resiko secara individu.

Pembiayaan pelayanan kesehatan di masa depan akan semakin mahal karena:

    1. Pertumbuhan nasional yang juga mengakibatkan meningkatnya tuntutan mayarakat akan pelayanan kesehatan yang lebih bermutu.
    2. Perkembangan teknologi kedokteran dan perumbuhan industri kedokteran. Hampir semua teknologi kedokteran masih diimpor sehingga harganya relatif mahal karena nilai rupiah jatuh di banding dolar Amerika.
    3. Subsidi pemerintah semakin menurun akibat krisis ekonomi 1998.

    Salah satu upaya untuk melindungi dan mengatasi hal tersebut, mayarakat swasta dalam bentuk PMDN atau PMA sebaiknya berperan serta di dalam sistem pembiayaan kesehatan melalui asuransi kesehatan.

    Asuransi kesehatan adalah suatu mekanisme pengalihan resiko (sakit) dari resiko perorangan menjadi resiko kelompok. Dengan cara tersebut, beban ekonomi yang harus dipikul oleh masing-masing peserta asuransi akan lebih ringan tetapi mengandung kepastian karena memperoleh jaminan.

    Unsur-unsur asuransi kesehatan :

    1. Ada perjanjian.
    2. Ada pembelian perlindungan.
    3. Ada pembayaran premi oleh masyarakat.

    Sacara universal, beberapa jenis asuransi kesehatan yang berkembang di Indonesia :

    1. Asuransi Kesehatan Sosial (Social Health Insurance)

    Asuransi ini memegang teguh prinsipnya bahwa kesehatan adalah sebuah pelayanan social, pelayanan kesehatan tidak boleh semata-mata diberikan berdasarkan status social mayarakat sehingga semua lapisan berhak untuk memperoleh jaminan pelayanan kesehatan.

    Asuransi Kesehatan Sosial dilaksanakan menggunakan prinsip :

    1. Keikutsertaan bersifat wajib.
    2. Menyertakan tenaga kerja dan keluarganya.
    3. Iuran/premi berdasarkan gaji/pendapatan. Untuk Askes menetapkan 2% dari gaji pokok PNS.
    4. Premi untuk tenaga kerja ditanggung bersama (50%) oleh pemberi kerja dan tenaga kerja.
    5. Premi tidak ditentukan oleh resiko perorangan tetapi didasarkan pada resiko kelompok.
    6. Tidak diperlukan pemeriksaan kesehatan awal.
    7. Jaminan pemeliharaan kesehatan bersifat menyeluruh.
    8. Peran pemerintah sangat besar untuk mendorong berkembangnya asuransi kesehatan sosial di Indonesia. Semua PNS diwajibkan untuk mengikuti asuransi kesehatan.

    Di Indonesia, asuransi kesehatan bagi PNS dan penerima pensiun dikelola oleh PT. Askes

    2. Asuransi Kehatan Komersial Perorangan (Private Voluntary Health Insurance)

    Model asuransi kesehatan ini juga berkembang di Indonesia, dapat dibeli preminya baik oleh individu maupun segmen masyarakat kelas menengah ke atas.

    Asuransi kesehatan komersial perorangan mempunyai prinsip kerja sebagai berikut :

    1. Kepesetaannya bersifat perorangan dan sukarela.
    2. Iuran/premi berdasarkan angka absolut, ditetapkan berdasar jenis tanggungan yang dipilih.
    3. Premi didasarkan atas resiko perorangan dan ditentukan oleh faktor usia, jenis kelamin, dan jenis pekerjaan.
    4. Dilkaukan pemeriksaan kesehatan awal.
    5. Santunan diberikan sesuai kontrak.
    6. Peranan pemerintah relatif kecil.

    Di Indonesia, produk asuransi kesehatan komersial dikelola oleh Lipo Life, BNI Life, Tugu mandiri dan sebagainya.

    3. Asuransi Kesehatan Komersial Kelompok (Regulated Voluntary Health Insurance)

    1. Jenis ini merupakan alternatif  lain. Prinsip-prinsip dasar sebagai berikut :
    2. Keikutsertaannya bersifat sukarela tetapi berkelompok.
    3. Iuran / preminya dibayar berdasarkan atas angka absolut.
    4. Perhitungan premi bersifat community rating yang berlaku untuk kelompok masyarakat.
    5. Santunan diberikan sesuai kontrak.
    6. Tidak diperlukan pemeriksaan awal.
    7. Peranan pemerintah cukup besar dengan membuat undang-undang.

    Di Indonesia, asuransi kesehatan sukarela juga dikelola oleh PT. Askes.

    Kendala utama pengembangan bisnis asuransi kesehatan si Indonesia adalah :

    1. Kesadaran masyarakat untuk berasuransi rendah. Masyarakat kelas menenengah ke bawah masih mempunyai pandangan bahwa mereka tidak mau berasuransi sebelum jatuh sakit.
    2. Tingginya inflasi harga pelayanan kesehatan sampai 300 – 500 %.
    3. Digunanakan teknologi kedokteran yang baru yang hampir semua komponen masih diimpor sehingga menyebabkan beay pelayanan menjadi sangat mahal.

    Untuk mengelola perasuransian di Indonesia, pihak manajemen harus selalu memperhatikan tingkat kepuasan pelanggannya. Ada empat faktor yang mungkin akan mempengarugi kepuasan pelanggan asuransi :

    1. Assymmetri information. Informasi yang dimiliki oleh pelanggan jasa asuransi sangat terbatas sehingga pengetahuannya tidak seimbang. Merka hanya mengerti : ”Yang penting saya sembuh”.
    2. Externality. Anggapan dan harapan jika sakitakan menjadi tanggungan keluarga besar sudah tidak relevan lagi karena sistem nilai masyarakat sudah indivudualistik. Misalnya, jika ada anggota kelluarga yang dirawat di RS, abanyak anggota yang menunggu di bangsal, tetapi jika diminta untuk mendonorkan darahnya banyak yang menolak alasan dengan alasan yang tidak masuk akal.
    3. Ignorance. Banyak asuransi kurang peduli dengan kesehatannya karena mereka kurang memahaminya. Jika sakit dan mendapatkan perawatan dokter sering erpikir ”yang penting sembuh” sehingga jika diperiksa apa saja mau dan pasrah.
    4. Cost. Akibat dari ketiga faktor di atas, akhirnya beujung pada peningkatan biaya perawatan yang kadang-kadang di luar aturan asuransi. Akibatnya timbul keluhan dan menjadi sumber ketidak puasan pelanggan. Mungkin tindakan medis / perawatan yang diterima sudah benar tetapi karena pasiennya kurang peduli dengan aturan asuransi, pengguna jasa asuransi kurang puas.

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: